Share To
Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 November 2012

Mengajari Anak Memasak

Mengajari Anak Memasak Mengajari Anak Memasak Bisa Membentuk Pola Makan Sehat
Kebiasaan memasak bisa dilatih sejak kecil. Saat mereka tertarik ikut membuat cake atau puding, biarkan si kecil terlibat. Meskipun menghabiskan banyak waktu di dapur, manfaatnya bisa dirasakan kemudian. Karena mengajarkan anak memasak dapat menciptakan kebiasaan makan yang baik.

Tak hanya oleh orang dewasa, kini memasak kerap dilakukan oleh anak-anak. Ketertarikan ini bisa muncul dari seringnya melihat sang ibu memasak di dapur. Apalagi jika masakan yang dibuat terasa enak dan cocok di lidahnya. Dengan penasaran si kecilpun ingin tau cara membuatnya.

Seperti yang dilansir dari livestrong, sebelum mengajarkan memasak, ajarkan dahulu si kecil membaca resep. Anda bisa menyuruhnya membaca resep sambil menimbang bahan makanan yang akan dipakai. Dengan begitu anak Anda bisa lebih pintar dalam berhitung dan otaknya dapat berkembang dengan baik.

Jika si kecil tak suka sayur atau nasi, bisa diatasi dengan mengajaknya memasak. Buat kegiatan ini menjadi lebih menyenangkan. Dengan begitu si kecilpun akan tertarik dan ingin mencicipi makanan yang dibuatnya. Meskipun bahan makanan yang digunakan adalah sayuran.

Agar si kecil tak bosan ajarkan membuat menu masakan yang berbeda setiap harinya. Misalnya dibuat sup, tumisan, rebus atau kukus. Selain itu variasikan juga jenisnya agar nutrisi hariannya terpenuhi dan membantu ciptakan pola makan yang sehat.
Read more ...

Nutrisi Unagi Sangat Baik Untuk Kecerdasan Anak

Nutrisi Unagi Sangat Baik Untuk Kecerdasan Anak
Jenis ikan yang satu ini berbadan licin dan panjang. Banyak terdapat di sawah dan empang serta di budidayakan. Dagingnya lembut gurih dan mengandung sejumlah vitamin dan mineral penting untuk anak-anak.

Nutrisi Unagi
Ikan sidat atau ordo Anguilliformes disebut juga sebagai ikan bertelinga atau ginseng air. Dapat diolah menjadi berbagai masakan, digoreng tepung atau dibakar. Karena kandungan nutrisinya, sidat sangat digemari di Jepang. Biasanya di jadikan topping sushi atau unagi.

Ikan ini bertubuh licin, besar dan panjang sekitar 50-125 cm, mirip seperti ular. Tiga sirip di tubuhnya terdapat di punggung, dubur dan ekor. Gerakannya yang gesit, dapat melalui celah-celah sempit dan lubang di dasar perairan.

Berkembang biak di air laut dan membesar di air tawar seperti sungai, rawa dan danau. Di perairan Indonesia ada enam jenis ikan sidat, yaitu Anguilla mormorata, Anguilla celebensis, Anguilla ancentralis, Anguilla borneensis, Anguilla bicolor bicolor dan Anguilla bicolor pacifica.

Seperti yang dilansir dari situs djpb.kkp.go.id, sidat atau belut mengandung vitamin B1, B2 dan A yang jumlahnya lebih banyak dari susu sapi. Kandungan zinc dan DHA nya dapat membantu meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan tubuh serta fungsi otak terutama untuk kecerdasan anak.

Kandungan antioksidannya dapat menambah imunitas, menghilangkan racun dan memperlambat penuaan. Karena itu, sidat disebut juga sebagai ginseng air. Di Jepang, ikan sidat dipercaya sebagai makanan pembangkit vitalitas.

Jika ingin membelinya, kini sudah banyak tersedia di swalayan. Khusus untuk unagi bisa dibeli dalam bentuk siap makan karena sudah dibersihkan dan dibumbui.
Read more ...

Rabu, 25 Mei 2011

Kiat Memilih TK dan Pendidikan Prasekolah Anak

anak
ANAK - Pendidikan usia dini sangat penting bagi perkembangan anak. Untuk itu, para orang tua harus memiliki kiat khusus untuk memilih taman kanak-kanak atau lembaga pendidikan prasekolah yang sesuai dengan kebutuhan anak.Berikut beberapa kiat yang dikutip dari Ehow.

1. Bahasa
Pastikan TK yang Anda pilih memakai bahasa yang sesuai dengan yang digunakan anak sehari-hari. Hal ini akan memudahan anak menyerap seluruh ilmu yang diajarkan. Jika Anda berada di daerah seperti Jawa Barat atau Sumatera Barat, misalnya, terkadang komunikasi guru dan anak masih menggunakan bahasa setempat. Jika anak Anda terbiasa menggunakan bahasa Indonesia di rumah, hal itu akan membuatnya kesulitan mencerna.Memilih TK yang menggunakan 2 bahasa (Indonesia-Inggris) juga bisa menjadi pilihan tepat. Anak Anda bisa belajar bahasa Inggris sejak dini.

2. Kurikulum
Perhatikan kurikulum yang ditawarkan. Walau dinamakan prasekolah, namun lembaga ini merupakan dasar pendidikan bagi anak Anda. Cobalah untuk melihat apakah pendidikan yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan. Pelajaran berhitung dasar penting bagi anak-anak, karena hal itu bisa melatih logikanya. Selain itu melatih keseimbangan otak anak dengan menyanyi, menggambar, dan kegiatan seni lainnya juga perlu dilakukan. Yang tak kalah penting, jangan lupakan latihan fisik seperti berolahraga.

3. Metode pengajaran
Setelah melihat kelengkapan kurikulum, hal lain yang juga harus dilakukan adalah menyimak bagaimana para pengajar menyampaikan kurikulum tersebut. Apakah sang guru masih memakai metode satu arah, atau mengajak anak-anak terlibat dengan metode pengajaran dua arah. Metode yang kedua tentu lebih baik. Anak Anda diajarkan bagaimana cara mengungkapkan pemikirannya, tanpa merasa takut atau malu. Kepercayaan diri anak pun bisa terlatih.

4. Lingkungan
Hal terakhir yang tak boleh luput dari penawasan Anda adalah lokasi serta lingkungan TK. Apakah lingkungannya cukup aman dan nyaman bagi anak-anak? Lingkungan yang aman dan nyaman akan membuat Anda merasa tenang saat si kecil sedang berada di sekolahnya.
Read more ...

Sabtu, 05 Maret 2011

Stop !! Kegemukan Pada Anak

Obesitas atau kegemukan saat ini telah menjadi problema. Terutama bila terjadi pada anak-anak.Obesitas juga melatar belakangi terjadinya Sindrom Metabolik.Sindrom
anak gemuk
Metabolik saat ini cenderung meningkat kejadiannya pada anak-anak. Fakta ini memprihatinkan para orang tua. Kini semakin banyak anak-anak yang mengalami obesitas. Orang tua sekarang merasa senang bila memiliki anak bertubuh besar. Padahal gemuk kini tak lagi sehat. Sindrom metabolik pada anak-anak terjadi secara progresif tanpa disadari, dan baru akan terasa setelah ia dewasa.

Dari data yang ada, di Amerika terdapat 9 juta orang kegemukan dengan berbagai penyakit dan 300 ribu lainnya mengalami kematian dini setiap tahunnya. Anak yang gemuk atau obesitas sejak kecil ternyata memiliki kecenderungan susah untuk menurunkan kegemukannya dibandingkan dengan orang yang gemuk setelah dewasa. Demikian diungkapkan dr. Fiastuti Wijtaksono, MSc. MS. SpGK, Spesialis Gizi dari Klinik Spesialis Semanggi Jakarta saat ditemui Kiatsehat beberapa waktu lalu di Surabaya.

Hal ini dipengaruhi oleh faktor penyebabnya. Kegemukan memang banyak dipengaruhi oleh faktor genetik, namun faktor lingkungan lebih mempengaruhi terjadinya kegemukan. Menurut dr. Fiastuti, seorang anak yang berasal dari orangtua yang gemuk lebih mudah gemuk dengan lingkungan yang mendukung, seperti kebiasaan keluarga dengan aktivitas kurang dan makan enak.

Diet menjadi salah satu solusinya, namun diet bukan sekedar menurunkan berat badan. ”Diet adalah mengatur pola makan,” tegas dr. Fiastuti. Mengatur pola makan ini sebaiknya dilakukan sejak usia sangat dini. Dr. Fiastuti menyarankan untuk hanya memberikan ASI selama 6 bulan pertama. Setelah 6 bulan keatas mulai kenalkan satu demi satu rasa makanan. Disinilah proses belajar berlansung, makin bervariasi makanan anak ia akan semakin sehat. Memasuki usia 1 tahun, orang tua bisa memberikan makanan keluarga. Disinilah seorang ibu dituntut untuk kreatif mengatur pola makan untuk menghindari kegemukan yang dapat menimbulkan masalah kesehatan anak di masa depan.|Kiatsehat
Read more ...

Senin, 28 Februari 2011

Membentuk Anak yang Penurut

Pastilah menyenangkan memiliki anak-anak yang selalu menuruti keinginan orangtua, tidak membantah dan bahkan mau membantu mengurangi kesibukan atau beban orang tua

Mungkin Anda iri melihat anak kolega Anda yang begitu penurut saat diberitahu oleh orangtuanya. Dia segera melaksanakan apa yang dianjurkan orangtuanya tanpa membantah atau beradu argumen panjang terlebih dahulu. Berbeda dengan anak-anak Anda, alih-alih mendengarkan Anda bicara, mereka malah melengos pergi dan tak memperdulikan perkataan Anda.

Tak mudah memang membuat anak-anak mematuhi semua perintah atau peraturan yang Anda buat. Padahal, semua yang Anda lakukan pastilah untuk kebaikan dan bekal hidup mereka kelak. Akan tetapi memiliki anak yang cenderung suka “ngeyel” bukanlah akhir dari dunia. Semua itu pastilah bermula dari pola asuh Anda. Simak tips berikut.

1. Jadilah orang tua yang sempurna.
Bila Anda menginginkan anak yang sempurna maka jadilah orang tua yang sempurna, kira-kira seperti itulah. Karena pada kenyataannya, anak pasti mencontoh perilaku orangtuanya sebagai orang terdekat.

2. Lakukan dengan cara yang baik.
Saat hendak menyuruh sesuatu pada anak, lakukanlah dengan cara yang baik dan santun. Misalnya dengan kata tolong, bantuin mama atau papa dong, dan sebagainya.

3. Berikan pujian pada anak jika anak telah melakukan sesuatu hal yang baik.
Anak akan senang kalau dipuji dan merasa bahwa apa yang dilakukannya telah menyenangkan orang tua.

4. Buat agar kegiatan yang diberikan pada anak jadi menyenangkan.
Misalnya dengan mengajak anak merapikan mainan sambil bermain atau bernyanyi.
Read more ...

Agar Anak Tak Lagi Bertengkar

Salah satu kesulitan yang mesti dihadapi para orang tua adalah saat anak-anak mereka bertengkar. Dr Fredrick Toke, terapis khusus anak mengatakan sebagai orang tua seharusnya mengajarkan mereka untuk bertoleransi, mempunyai empati dan tahu cara menyelesaikan masalah tanpa mendatangkan masalah.

Berikut 4 trik jitu cara menyiasati agar si kecil bisa berhenti bertengkar :

1. Habiskan Waktu yang Sama untuk Setiap Anak
Habiskan waktu yang sama untuk setiap anak. Temani mereka dalam melakukan hobi atau kursus yang mereka kerjakan. Rasa marah si kecil bisa karena cemburu akhirnya membuat mereka mencari alasan untuk bertengkar dengan saudaranya.

Mereka akan berpikir Anda tidak adil karena Anda hanya mencintai yang lain. Menghabiskan waktu bersama, selain menghapus kecemburuan itu juga membuat ikatan kekeluargaan semakin erat.

2. Beri Jam Weker
Pasang jam weker. Setiap anak diberi waktu 15 menit untuk menonton acara favoritnya. Bila alarm jam sudah berbunyi berarti 15 menit berikutnya untuk anak yang lain. Dr. Mark W Roberts, profesor dari The Idaho state University mengatakan adanya jam weker membuat mereka merasa mendapatkan pembagian waktu yang persis sama. Namun sebaiknya Anda mengajak mereka bicara dahulu, ajarkan untuk menyelesaikan masalah bersama dengan sikap toleransi .

Bila tidak ada titik temu barulah dipakai trik ini. " Jika tidak ada yang mau mengalah, bertindaklah tegas tidak memperbolehkan keduanya menonton televisi, agar mereka tahu bahwa sikapnya bisa merugikan dirinya juga."

3. Beri Kode untuk Barang Setiap Anak
Beri kode tertentu untuk setiap anak. Dr Janet Brown penulis What Colour is Your Personality mengatakan anak-anak sering ribut hanya untuk sesuatu yang tidak jelas. Pemberian kode bisa mengajarkan mereka berempati terhadap sesama, mereka akan mengerti bagaimana perasaan orang lain bila barangnya dipakai atau direbut.

4. Periksa Program Televisi
Periksa program televisi yang hendak ditonton. Jangan sampai si kecil menonton film yang penuh adegan kekerasan. Joanna Sulli, seorang psikolog anak mengatakan di masa pertumbuhan, anak mudah sekali dipengaruhi oleh apa yang dilihat dan didengar. Bila sang buah hati ingin menonton suatu program acara pastikan Anda sudah menontonnya terlebih dahulu sebagai pencegahan bila ternyata program tersebut tidak cocok untuk anak-anak.
Read more ...

Cara Tepat Berkomunikasi dengan Anak

“Aduh kamu ini sudah kelas dua kok masih belum bisa menghitung, contoh tuh si Ahmad, dia sudah lancar menghitung, nilai matematikanya juga bagus.” Seringkali kalimat tersebut terlontar dari para orang tua apabila anak menunjukan sisi ketidakmampuannya.

Padahal membandingkan anak sendiri dengan anak lain, yang mungkin lebih menonjol dalam sesuatu hal, dengan maksud agar anak termotivasi untuk maju dan belajar lebih giat lagi, bukanlah tindakan yang tepat.

Kadangkala orang tua tidak menyadari ungkapan membandingkan seperti itu justru membuat anak menjadi lebih minder dan tidak percaya diri. Hal ini tentu saja berpengaruh dalam perkembangan psikologis anak.

Psikolog Dr. Rose Mini Adi Prianto M.Psi, atau yang lebih akrab disapa Mba Romy mengatakan perkembangan masing-masing anak berbeda. Ada yang tingkat kemampuan berjalannya lebih cepat, ada yang kemampuan membacanya yang lebih dulu berkembang dibandingkan yang lain walaupun pola tumbuh kembangnya sama.

Anak yang tidak bisa matematika atau nilai matematikanya rendah belum tentu anak yang bodoh. Bisa jadi dia lebih pintar di bidang lain yang lebih diminatinya.

Solusinya, lakukan komunikasi dengan anak dan kenali apa yang menjadi hambatannya. Jangan menebak-nebak apa yang ingin dia katakan atau lakukan dan jangan sekali-kali memasang wajah cemberut ketika berbicara.

Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan orang tua dalam berkomunikasi dengan anak :
  1. Tunjukkan perhatian dan luangkan waktu untuk mendengarkan anak berbicara. Hentikan sementara aktifitas yang sedang anda lakukan dan berkonsentrasilah pada apa yang sedang mereka katakan.
  2. Cobalah memahami dan merasakan apa yang telah mereka ungkapkan.
  3. Buatlah suasana santai dan rileks agar anak lebih mudah dan lebih banyak berbicara dan bercerita.
  4. Munculkan bahasa tubuh yang hangat, menerima dan menaruh konsentrasi penuh. Jangan cuek atau acuh tak acuh. Usahakan untuk memposisikan diri sejajar dengan anak agar dapat langsung menatap ke arahnya.
  5. Pergunakan bahasa yang spesifik, mudah dimengerti oleh anak. Hindari istilah-istilah sulit dan kalimat yang ambigu.
  6. Perhatikan bahasa tubuh yang tampil dari anak. Terkadang ada anak yang sedikit sekali berbicara namun lebih memunculkan respon lewat gerakan tubuh.
  7. Jadilah pendengar yang aktif dengan ekpresi kalimat dan gerakan tubuh seperti menganggukkan kepala, menggeleng, ekspesi mata dan sebagainya.
  8. Gunakan prinsip “berbicara dengan anak” bukan “berbicara pada anak.”
  9. Biarkan cerita anak mengalir, hindari memotong pembicaraan atau bahkan menilai dan menghakimi cerita anak.
Read more ...

Optimalkan Perkembangan Anak

Ibu dan anak merupakan bagian dari komponen kehidupan yang tak dapat dipisahkan. Keberadaan seorang anak pastinya tak lepas dari peran serta sang Ibunda. Begitu pula dengan perkembangannya. Pada masa-masa keemasan sang buah hati (terutama usia 0 hingga 3 tahun), ibu harus ekstra peka dan kreatif dalam pola pengasuhannya.

Ahli pendidikan usia dini, Lely Tobing mengatakan setiap orang tua harus mengerti dengan karakter masing-masing anak. Anak bukan merupakan miniature dari orang tua. Karena itu, berikan tuntutan dan tuntunan yang realistis kepadanya. Hindari memaksakan sesuatu kehendak kepada anak. Bila memang sesuatu tersebut tak sesuai dengan minatnya maka hanya akan menghambat pertumbuhan dan membuatnya tertekan saja.

Setiap anak memiliki kecerdasan tersendiri dan berpotensi untuk menggapai kecerdasan yang lebih dari anak yang lain. Cerdas tak melulu harus diartikan secara akademik semata. Tetapi juga cerdas dalam hal-hal lain seperti kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain, kemampuan mengeluarkan ide-ide dan mengekspresikan dirinya.

“Cerdas juga berarti anak mampu mengembangkan kemampuan, potensi, serta kapasitas yang ada dalam dirinya sebaik mungkin. Agar dia dapat tumbuh menjadi anak yang sehat, mandiri, pintar dan gembira,” katanya.

Sementara itu, Psikolog dan Theraplay (therapist bermain) Mayke Tedjasaputra menjelaskan bermain itu perlu untuk mengembangkan 3 hal dalam perkembangan anak yaitu psikososial, fisik dan kognitif.

Anak belajar dari apa yang dia lihat dan dia dengar, karenanya anak membutuhkan pengertian tentang batasan-batasan tertentu agar dia tetap berada di jalur yang benar. Lely menyebut rangsangan atau stimulasi sejak dini baik fisik atau motorik, kognisi, sosial, emosional, dan bahasa. Selain itu asupan gizi yang berkualitas serta pola pengasuhan yang tepat dan kasih sayang sebagai faktor yang paling mempengaruhi kecerdasan seorang anak.

“Setiap tahapan yang dilalui anak mempengaruhi kualitas perkembangannya serta kesiapannya untuk melalui tahapan selanjutnya,” tutup Lely.
Read more ...